Renungan Paradoks (Kali ini bersama Epicurus)

Gue suka logika Epicurus (filsuf Yunani yang hidup 241-270 SM ) yang satu ini:
Entah Tuhan ingin melenyapkan kejahatan tapi tak mampu atau Dia mampu tapi tak mau atau dia tidak mampu dan tidak mampu, atau Dia mampu dan juga mau. Jika Dia mau namun tidak mampu berarti Dia lemah, hal yang tidak mungkin terjadi pada Tuhan. Jika Dia mampu tapi tidak mau berarti Dia jahat, sifat yang asing untuk Tuhan. Jika Dia tidak mampu dan mau berarti Ia lemah dan jahat, yang berarti Dia bukan Tuhan dan jika Dia mampu dan mau-satu-satunya hipotesis yang ada kaitannya dengan Tuhan-lalu darimana kejahatan berasal, atau mengapa Tuhan tidak menghapuskannya.
haha jelimet tapi menyegarkan. tentu saja Epicurus merujuk pada kata “Theos” yang bisa berarti Dewa dan entitas yang serupa. buku-buku modern merujuknya pada pengertian “Tuhan” yang dipahami modern ini. Logika seperti ini seringkali dijadikan tolak ukur para materialis yang seperti gue, ingin belajar memahami dunia. yang menarik logika juga dipakai kaum Spiritualis (gue nggak mau menyebutnya religius) sebagai senjata. Berikut quotes yg gue lupa dari siapa:
“Jika Tuhan tidak ingin manusia berpikir, maka Ia akan menciptakannya seperti itu”
Jadi kalian, yang percaya maupun tidak percaya selamat datang di misteri alam semesta! :D

(Ini karya teme guen, Rinaldo Hartanto. Judulnya dialektika pertaba bijak dengan ‘Entitas Agung’)
Pelajaran seni dari Leonardo di ser Piero di Da Vinci La Prima Parte (Bagian Pertama)

Kemungkinan potret diri dari Leonardo yang sekarang berada di Milan, Italia. Potret lainnya yang sering kita lihat di buku, diduga merupakan pemalsuan dari abad ke-19.
Leonardo (1452-1519), yang sering kita beri embel2 dibelakangnya Da Vinci memang manusia Renaissance sejati, tapi yang baru gue sadari ternyata teori-teorinya tentang menjadi seorang ‘pekerja seni’ ternyata mantep juga. Tentu saja Leonardo tidak pernah mengumpulkan teori-teorinya tersebut dalam satu jilid, ia menuliskannya dalam buku-buku sketsanya yang bertebaran secara acak.Berikut bagian pertama dari sekian banyak tutorialnya:
1.) “Remember, Learn Diligence before speedy Execution”
2.)” Pay attention in the street toward evening, when the weather is bad, to how much grace and sweetness can be seen in the faces of men and women.”
3.) “When the work stands equal to one’s judgment of it, it is a bad sign for the judgement. When the work surpases one’s judgment that is worse, as it happens to someone who is astonished at having produces such good work, and when the judgement dasdains the work is a perfect sign. If someone with such an attitude is young, without doubt he will become an excellent painter. but will produce few works altough these will be of such quality that men will stop in admiration to contemplate their perfection” (Nggak diragukan lagi, Leonardo memilih jalur ini)
4.) “Thus, O Painter, be eager to hear no less willingly what your enemies say about your work than what your friends say”.
5.) “He should always carry a notebook with him and learn to record what he sees in quick and accurate sketches; once he can do easily, he must leave his notebook at home, setting himself the more difficult challage of remembering what he has seen well enough that he can draw it later”.
Pelajaran dari seorang Kakak Part 3 (Teruntuk Koko Don)
“Gue udah tiga kali robah Ki. Dari beragama jadi Atheis, beragama lagi, atheis lagi. Sekarang gue udah beragama lagi. Tapi kalau disuruh milih antara beragama atau bertuhan gue pilih bertuhan karena kita harusnya mencintai Tuhan bukan mencintai agama.”
Pelajaran dari seorang Kakak Part 1 (Teruntuk Koko Don)
“Kalau dalam relationship, lebih penting mana? Quality atau Quantity?
“Yg bener, Quantity yg berkualitas lah. Hahahahha”
Pelajaran dari seorang Kakak Part 2 (Teruntuk Koko Don)
“Bingung antara keinginan dan kebutuhan. Mana yang lebih penting?”
“Ya bukan hak kita untuk memilih, tapi karena hidup itu tanggung jawab, maka kebutuhan akan lebih membantu dibandingkan dengan kenginan.”
Saya tak mengharapkan pahlawan. Orang tak selalu baik, benar, berani. Tapi saya mengagumi tindakan yang baik, benar, berani, biarpun sebentar,
“The greatest masterpieces were once only pigments on a palette.”
“A violinist had a violin, a painter his palette. All I had was myself. I was the instrument that I must care for.”
Quotes diatas berasal dari Josephine Baker, seorang entertainer terkenal tahun 20-an yang lupa bahwa seorang pemusik dan pelukis juga merupakan instrumen bagi dirinya sendiri. Biola adalah alat, kuas dan palet adalah alat. keduanya membantu agar eksistensi para individu tersebut menjadi ada, tapi tanpa diri mereka sendiri sebagai instrumen utama, masterpiece yang abstrak tidak akan pernah menjadi nyata.
Berikut adalah palet-palet dari seniman besar yang berhasil dipreservasi. Mereka yang art history wh*** pasti senyum-senyum sendiri, mereka yang art history beginner pasti takjub. cat-cat kering diatas palet memberikan gambaran akan karya mereka…

Delacroix

Moreau

Degas

Gauguin

Van Gogh

Seurat
” :D “