Nah setelah 1 dekade penuh dengan Cheese-cake girl, tahun 60 propaganda Ultra-feminin itu masih berlanjut, tapi mulai terjadi tanda-tanda kegelisahan sejak akhir tahun 1950. salah satunya adalah lewat film Funny Face. Funny Face berkisah tentang sebuah majalah mode yang melakukan pencarian model dengan kapasitas bukan hanya cantik tapi juga berotak (maaf kalau istilah ini terlalu kasar). Lalu muncullah Audrey Hepburn sebagai pemilik toko buku dan filsuf amatir yang membuat mereka terkesima dengan penilaian pribadi dan sinisnya soal kecantikan dan fashion. Brainwash soal wanita ideal tampaknya segera berakhir.

I WILL FLY FROM STREOTYPE!

I AM FREE!
Hehe walau udah mulai kritis, tapi ente belum sepenuhnya bebas Mbak. Untungnya ada filsuf dan pemikir beneran bernama Tante Simone de Beauvoir yang menerbitkan buku judulnya,”The Second Sex” pada tahun 1949. Walau buku tersebut tampaknya tidak ‘diwaro’ sepanjang tahun 50, buku ini menjadi salah satu dasar feminisme modern dan membuka wawasan banyak wanita saat ini. Salah satu quotesnya yang terkenal adalah.
“Wanita bukanlah dilahirkan melainkan diciptakan”

Tante Simone, sama gayanya dengan Audrey Hepburn
Menyusul lagi adalah karya fenomneal lain, Femine Mystique karya Betty Friedan yang memperlihatkan kehampaan para ibu rumah tangga Amerika yang ‘tercuci otak’ sepanjang tahun 50 dan awal 60-an. Buku ini juga salah satu yang memperlihatkan pertama kali peran media dalam pembentukan citra. Kaum wanita berontak, sekali lagi, seperti ketika mereka menuntut hak pilih.

Pawai Women Liberation pada tahun 1970
(Prolog)
Di tahun 2000-an ini jumlah wanita yang bekerja dan sekolah meningkat pesat. Mereka bisa jadi apapun yang mereka mau.

Pemadam Kebakaran

Mekanik

Aktivis dan Politikus (Malalai Joya, Politikus Afghanistan yang selamat dari 5 kali penyerangan dan sekrang bersembunyi)
…..tetapi menurut penelitian terbaru, biasanya gaji mereka kurang sekitar 33-34 persen dari kolega pria mereka. Terasa familiarkah? Yah setidaknya mereka cukup bebas untuk menjadi ini

atau ini

atau ini

(Roemaini binti Hasan, mahasiswi IKJ)
Mudah-mudahan, Insya Allah
————————————————-***——————————————————-
Thank heaven for little girls
thank heaven for them all,
no matter where no matter who
for without them, what would little boys do?
(Potongan lirik dari lagu ‘Thank Heaven for little girl’, ost film Gigi tahun 1958)
Bener kan cowok-cowok, Mulai kita menghargai mereka bukan dimulai dari konsep yang kita pikirkan.